sekarang download 4shared ga perlu login dan ga perlu nunggu timer
caranya : copy alamat downloadnya
(misal : http://www.4shared.com/mp3/AQ3fCUoD/03_Still_Im_Sure_We_Love_Again.htm )
paste kan ke dalam generator 4shared berikut
dan klik "generate link"

4shared Generator

KABAR BURUK UNTUK INDUSTRI MUSIK

Kabar buruk terhadap indutsri musik Indonesia makin terdengar saja. Hampir setiap label musik mengumumkan keluh kesahnya terhadap penjualan produk musik (CD & kaset).
Sementara itu, penjualan musik secara digital masih dalam renungan. Solusi bahwa menjual Mp3 sebagai pengganti CD dan kaset masih belum menggungguli RBT—sebuah industri musik yang mengandalkan ponsel sebagai media putar, bukan CD player lagi apalagi tape deck.
Situasi ini sebenarnya klasik. Hal yang serupa pernah terjadi ketika piringan hitam beralih menjadi kaset, lalu kaset menjadi CD. Dan memang tidak adil, ketika CD seperti dipaksa untuk berjaya selama kurun waktu 20 tahun lebih.
Industri musik sedang mencari solusi yang tepat. Karena, masalahnya bukan hanya peralihan bentuk format—dari CD ke bentuk Mp3. Tidak ada lagi barang dagangan pengganti CD. Di lain pihak, musisi terpaksa benar-benar tutup mata terhadap penjualan CD mereka, atau dibaca: penghasilan tidak lagi dari itu.
Album Gratis dan Pola Pikir
Bagi yang ingat, Metallica dulu pernah mengungkapkan kekesalannya terhadap Napster. Mereka menganggap media internet itu merugikan karena telah membuat musik mudah dimiliki secara gratis. Dulu ada yang berpihak pada Metallica, khususnya label musik. Tapi massa Metallica justru sebaliknya. Mereka malah membenci band kesayangannya itu karena dianggap pelit.
Yang tidak disadari oleh industri musik adalah budaya memiliki musik gratis memang tidak bisa dibendung. Maka yang terjadi adalah masyarakat mencari segala cara untuk membajak. Karena label musik tetap “keras kepala” menjual CD asli dengan beragam program proteksi.
Banyak faktor yang menyebabkan budaya ini muncul. Termasuk kian maraknya produksi mp3 player, dan aspek pengendalian diri masyarakat untuk tidak membajak. Tapi kalau selalu membicarakan penyebab-penyebabnya, itu hanya berujung pada sikap saling menyalahkan.
Di luar, grup Mars Volta menjual album terbaru mereka dalam bentuk flashdisk yang disesuaikan dengan image mereka. Di satu sisi mereka menjual merchandise, di sisi lain mereka tetap bisa menjual musik. Dan konsumen untung karena mereka juga membeli perangkat elektronik yang berguna. Hal yang sama juga dilakukan grup musik Naif.
Sementara, The Upstairs dan Endank Soekamti melepas album dan lagu mereka secara gratis via internet. Ini dilakukan untuk mempromosikan album fisik mereka.
Bagaimana dengan label-label musik? Kini mereka ikut berkecimpung dalam manajemen artis. Artinya, mereka menjadikan konser panggung para musisi sebagai lahan baru.
Terkait dengan hal ini, beberapa pekan yang lalu, Dji Sam Soe menggelar acara Urban Jazz Crossover. Ini merupakan pagelaran ke dua dari konsep acara yang sama, yaitu menggabungkan musik jazz dengan elemen lain termasuk dance dan funk. “Harus nonton live, karena kita bukan cuma menghadirkan gaya musik yang baru tapi juga tata panggung,” tukas Eki Purwadireja selaku music director dan penggagas acara ini. Ia pun melanjutkan bahwa penonton antusias dan selalu apresiatif karena musisi-musisi tampil tanpa jeda.
Dalam acara tersebut, banyak musisi termasuk Andy/Rif yang menyanyikan “Smells Like Teen Spirit” Lagu Nirvana itu yang digubah dalam bentuk swing jazz. “Musiknya sendiri nggak selalu jadi swing saja atau funk saja. Tapi dalam satu lagu, bisa ada reggae, house, dan lainnya,” jelas Eki lagi. “Karena kita ingin menampilkan sesuatu yang baru, khususnya pada jazz. Soalnya saya bosan melihat orang menonton jazz kok seperti mendengarkan pidato. Saya inginnya penonton goyang saat menonton jazz,” tambah Stevanus Kurniadi, Brand Manager dari PT. HM Sampoerna Tbk.
Mengubah panggung konvensional menjadi lebih menarik, musik yang lebih berkualitas, musik gratis sebagai promosi, dan flashdisk musisi. Bisakah ini jadi solusi?